PLATO TIDAK BOHONG ATLANTIS ADA DI ZAMAN PRA-SEJARAH
INDONESIA
Plato adalah filosof dan ilmuwan besar yang hidup pada
masa masa 424 s/d 347 Sebelum
Masehi. Dia adalah murid Socrates yang
tidak kalah hebatnya. Dua konsep Plato
yang sampai sekarang menjadi acuan dunia adalah konsep negara replubik (dari
bukunya yang berjudul “Republic”) dan konsep tentang empat unsur utama
pembentuk alam, yaitu: Api, Air, Tanah, dan Udara. Peninggalan Plato lain yang tidak kalah
terkenalnya tapi sangat kontroversial adalah tentang kisah Kerajaan Atlantis
yang dituangkan dalam Dialog Timaeus dan Critias. Untuk memahami Atlantis harus mempelajari
sumber aslinya langsung tidak hanya membaca pembahasan Atlantis di berbagai
buku, termasuk Karya Santos. Anda akan
terkejut bahwa hampir semua kontroversi
itu jawabannya ada dalam dua Dialog Plato tersebut.

Dalam Dialog Plato dikatakan bahwa Kisah Atlantis
berdasarkan fakta bukan fiktif, dan sudah diakui kebenarannya oleh Solon,
seorang legislator Yunani yang sangat dihormati dan paling bijak yang hidup 150
tahun lalu sebelum zaman Plato (A-1).
Solon mendapatkan naskah ini ketika berkunjung ke Kota Sais di Mesir
dari para pendeta tinggi di sana. Sumber
asli-nya adalah prasasti dalam huruf sangat kuno (“hierroglyphs”?) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Mesir waktu itu
oleh para pendeta tersebut (A-2).
Kemudian oleh Solon Naskah itu diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Yunani
dan kemudian diberikan kepada sahabatnya Dropides, kakek buyut Plato
(A-2). Selanjutnya naskah asli
terjemahan Solon itu jatuh ke tangan
Critias, kakek Plato, dan kemudian diserahkan ke Plato dan dipelajarinya sejak
kecil (A-2,3).

Ada sebagian orang yang menyangka bahwa Atlantis hanya ada
dalam imajinasi Plato belaka sebagai negeri ideal yang diuraikan dalam buku
Republiknya. Ini sangat gegabah dan
tidak berdasar. Sama saja mengatakan
bahwa Plato bohong. Bagaimana mungkin
seorang Plato bisa berbohong tanpa
alasan yang kuat ? Ini tidak masuk akal. Negeri Atlantis yang sangat dikagumi Plato
dalam Timaeus dan Critias tidak mirip dengan negeri ‘Republik’nya Plato, bahkan
merupakan anti-thesisnya. Negeri
Republik-idealnya Plato mungkin lebih mengacu ke ‘Athena purba’ yang dalam
Dialog Timaeus dikatakan mempunyai sistem konstitusi yang luarbiasa (A-9).
Sebaliknya Atlantis adalah negeri dengan
sistem kerajaan yang diperintah oleh kekuasaan absolut dari para rajanya
(A-37).
Timaeus dan Critias tidak semata-mata berkisah tentang
Atlantis, tapi mungkin pada awalnya malah ditujukan untuk menceritakan
kepahlawanan pasukan Athena kuno yang
menang perang melawan pasukan Atlantis di wilayah Mediteranian (A4,10,12). Raja Atlantis dan pasukan tempur maritimnya
datang menyebrangi Samudra ‘Atlantic’ untuk menaklukan seluruh wilayah Eropa
dan Afrika (A10). Banyak wilayah Eropa
dan Afrika yang sudah ditaklukan tapi pasukan gabungan negara-negara Yunani
yang dipimpin Athena tetap berperang dengan gigih melawan pasukan Atlantis
(Timaeus). Pada akhirnya pasukan Athena
menang (A.10), sehingga wilayah yang tadinya sudah takluk terhadap Atlantis
bebas, khususnya Mesir (Timaeus). Para
pendeta tertinggi Mesir memberikan naskah kuno tersebut kepada Solon sebagai
penghargaan terhadap jasa para pahlawan Athena yang dulu pernah membebaskan
Mesir dari kekuasaan Atlantis (A1).
Jadi Dialog Plato tidak melulu bercerita tentang Atlantis tapi juga tentang
kebesaran Athena purba (A.9). Perlu
digaris-bawahi bahwa yang dimaksud dengan Athena (oleh Plato) bukan Athena yang
dikenal masyarakat pada waktu itu tapi peradaban kuno yang menjadi leluhur
bangsa Athena dan juga Mesir, yang juga sudah tidak dikenal lagi (A9).
Lebih jauh, Plato menguraikan suatu kearifan yang luarbiasa
bahwa sesungguhnya peradaban manusia dulu sudah banyak yang lebih maju tapi
selalu dimusnahkan oleh bencana katastrofi yang terjadi berulang-ulang dalam
perioda yang sangat panjang sehingga
hilang tidak berbekas (A5,6,7,8).
Misalnya dikatakan Plato bahwa dulu (pada Zaman Atlantis/Athena Purba)
orang bisa melintasi Samudra Atlantic, tapi pada zamannya sudah tidak mampu
lagi (A-10). Alasannya karena para
ilmuwan dan teknokrat masa purba yang tinggal diperkotaan mati oleh bencana,
yang tersisa biasanya adalah golongan yang berpendidikan rendah, seperti para
petani dan peternak yang hidup di desa-desa (A6,7). Selain itu, tidak banyak catatan tertulis
tentang tradisi dan IPTEK yang sudah dicapai pada masa purba sehingga generasi selanjutnya harus kembali belajar
dari nol, tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi di masa dahulu kala
(A5,7,8). Itu pula sebabnya kenapa orang
tidak tahu tentang kisah Atlantis dan Athena purba. Plato kemudian mengatakan
bahwa generasi dia atau yang akan datangpun bisa mengalami nasib yang sama.
Di mana lokasi Negeri Atlantis? Yang pasti bukan di sekitar wilayah Laut
Tengah (Mediteranian), yaitu: Eropa , Asia (Turki) dan Mesir (Afrika
Utara). Semua kandidat Atlantis yang
diajukan dari wilayah Mediteranian ini, termasuk Crete – Minoan, Cyprus, dll
tidak ada yang cocok dengan deskripsi dalam Dialog Plato, kecuali sebagian
saja. Selain itu jelas dikatakan bahwa
Raja Atlantis dan pasukan tempur-maritimnya datang dari Samudra Atlantic untuk
menyerang Eropa dan Asia, bukan berasal dari wilayah ini (A.10). Jadi, pasukan Maritim Atlantis kemungkinan
besar masuk via Selat Gibraltar terus ke Laut tengah (Mediteranian).
Pada Zaman Plato orang Eropa tidak ada yang bisa berlayar
menyebrangi Samudra Atlantic sehingga
tidak ada orang yang tahu sampai mana batas Samudra Atlantic dan ada apa di
seberang sana. Apakah mungkin Daratan
Atlantis itu berada di Samudra Atlantic menurut pengertian kini? Ini juga tafsiran yang salah kaprah. Istilah/nama pada zaman dahulu belum tentu
sama dengan arti pada zaman sekarang.
Santos menghabiskan satu bab dalam bukunya untuk menguraikan bahwa yang
disebut Samudra Atlantic oleh orang-orang Eropa pada zaman Plato adalah samudra yang mengelilingi
seluruh dunia. Selanjutnya Santos
menguraikan berbagai peta dan naskah kuno yang memperlihatkan tidak ada
pembagian Samudra seperti sekarang (Atlantic, Pasific, Hindia). Satu kasus menarik dalam sejarah adalah
tentang Christoper Colombus yang
mengarungi Samudra Atlantic (dari Eropa/Mediteranian) untuk mencari ‘The East
Indies’ (konon “hidden agenda” Colombus adalah mendapat mandat dari Kerajaan
Inggris untuk mencari Tanah Surga Atlantis – WallahuAlam). Namun Colombus terdampar di Benua Amerika. Ini berarti sampai masa Colombus orang Eropa
tidak mengetahui keberadaan Benua Amerika, disangkanya dengan menyebrang Samudra Atlantic akan
sampai ke East Indie tersebut. Itu
sebabnya kenapa penduduk asli Amerika disebut sebagai ‘Indian’ oleh Colombus
karena ketidaktahuannya. Jadi mencari
Atlantis hanya di Samudra Atlantic sekarang adalah kesalahan besar, apalagi
sampai ngotot membuat hipotesa konyol tentang benua hilang di tengah-tengah
Samudra Atlantik yang dari sudut pandang ilmu geologi adalah hal mustahil.
Untuk memahami dan mencari lokasi Atlantis yang sebenarnya
kita harus mencermati ciri-ciri kondisi alam nya yang diuraikan dengan cukup
rinci dalam Dialog Timaeus dan Critias.
Saya membantu merangkumnya, sebagai berikut:
1.Negeri Atlantis berada di sebuah pulau/daratan di seberang
Samudra Atlantic dari Eropa Barat. Pulau
tersebut terletak di muka selat-selat yang disebut sebagai “Pillar Heracles”
(A.10). Luas pulau ini lebih besar dari
Libya dan Asia pada waktu itu. Wilayah
di dalam atau diantara selat-selat Heracles itu hanya ada laut dangkal dan
pelabuhan dengan akses kanal yang sempit, tapi yang diluar selat adalah
benar-benar lautan luas yang diujungnya dibatasi oleh benua tak bertepi.
2.Bahwa pulau/daratan
yang dimaksud di-poin 1 sebenarnya merupakan semenanjung
besar/panjang yang menjorok ke arah lautan dari bagian pinggiran sebuah
benua. Semenanjung besar ini dikelilingi
oleh lautan dalam (A14).
3.Di tengah-tengah Pulau Atlantis ada wilayah dataran luas
yang terindah di dunia dan tidak ada yang mengalahkan kesuburannya (A16). Morfologi dataran itu sangat rata, berbentuk
persegi panjang dengan ukuran: panjang 555 km dan lebar 370 km (A30). Tanah datar ini dikelilingi oleh wilayah
pegunungan dengan gunung-gunung/bukit-bukit
yang yang berbagai ukuran dan terkenal sangat indah(A31). Dari wilayah pegunungan ini mengalir banyak
sungai-sungai ke arah dataran, kemudian sungai tersebut mengalir meliuk-liuk di
wilayah dataran (aluvial). Semua aliran
sungai ini bersatu dan masuk ke wilayah kota metropolis Atlantis yang dibangun
di atas wilayah dataran ini, dan kemudian induk sungai itu mengalir ke laut
(A33).
4.Tanah Negeri Atlantis sangat subur, terbaik di dunia, yang menghasilkan buah-buahan sangat
berlimpah dan banyak sekali macamnya (A13);
termasuk jenis buah yang kulit luarnya keras yang bisa diminum airnya,
dimakan dagingnya, dan juga dimanfaatkan minyaknya, alias KELAPA (A20).
Tanah pertaniannya selalu mendapat kecukupan air dengan memanfaatkan air
hujan ketika musim hujan dan kanal-kanal irigasi air dari banyak aliran sungai
ketika musim kemarau. Hasilnya dipanen
dua kali dalam setahun (A35).
5.Selain pertanian banyak tumbuh pohon-pohon besar-tinggi yang menambah
keindahan alam (A28), disamping juga menghasilkan berbagai macam kayu untuk
bahan mebel dan bangunan (A18).
6.Tanah Atlantis adalah sumber dari segala wewangian yang
berasal dari akar-akaran, tanaman herbal dan berbagai macam kayu, atau
konsentrat minyak wangi yang didestilasi
dari buah-buahan dan bunga-bungaan (A20).
7.Fauna di Negeri Atlantis luar biasa banyak populasi dan
ragamnya. Terdapat populasi gajah yang sangat banyak, dan berbagai jenis
binatang yang menghuni wilayah danau-danau, rawa-rawa, sungai-sungai, dan juga
yang hidup di wilayah pegunungan dan dataran (A19), baik yang liar ataupun yang
dipelihara (A18). Diantara binatang
buas ada yang terkenal paling besar dan terganas sedunia(A19).
Di perairannya terdapat banyak ikan lumba-lumba yang diilustrasikan
sangat akrab dengan penduduk Atlantis. Kuda-kuda pun sangat banyak.
Di wilayah dataran dibangun arena pacuan kuda yang sangat besar, di
sepanjang Pulau (ratusan kilometer) dengan lebar arena pacu ~200 meter (A28).
8.Tanah Atlantis juga sangat kaya dengan sumber daya mineral
dan logam. Ada banyak macam batu-batuan
beraneka warna yang dipakai untuk membangun berbagai bangunan, istana-istana,
dan kuil-kuil (candi-candi) (A24). Tanah Atlantis juga penghasil banyak sekali
emas, perak, tembaga, dan “orichalcum” (logam mulia sejenis campuran
emas-tembaga yang bercahaya merah).
Semua bahan logam ini sudah ditambang dan digunakan untuk berbagai
keperluan termasuk untuk membuat hiasan dan patung-patung, juga untuk melapisi
dinding dan lantai bangunan (A24,26).
9.Selain itu di Negeri Atlantis banyak terdapat
sumber-sumber mata air panas dan dingin yang dibuat menjadi pancuran di dalam
gedung-gedung untuk tempat bersantai dan mandi-mandi yang dilengkapi dengan
berbagai tanaman disekitarnya (A27).
Peradaban Atlantis diilustrasikan sangat maju. Dengan dukungan sumber daya alam yang
melimpah, Atlantis mampu membangun banyak kuil/candi tempat beribadah,
istana-istana, dan pelabuhan-pelabuhan (A21).
Keahlian yang sangat menonjol terutama dalam membuat kanal-kanal besar
di seluruh wilayah negerinya. Di
sekeliling dataran Atlantis dibangun kanal besar dengan lebar 1 stadia (185m)
dan dalamnya 100ft (~35m) membentuk lingkaran konsentris sepanjang 1000 stadia (1850 km). Kemudian dibangun juga jaringan kanal-kanal
selebar 100 ft dari wilayah hulu sungai (di pegunungan) sampai ke dataran,
terus sampai ke kota untuk membawa berbagai hasil hutan/pertanian (kayu dan
buah-buahan). Jarak antara jaringan
kanal-kanal adalah 100 stadia (~18.5km)
yang terhubung satu sama lain (A34).
Wilayah hulu-hulu sungai (pegunungan) dihuni oleh para pemilik dan
pengolah tanah pertanian dan peternakan yang kaya raya. Mereka mensuplai berbagai kebutuhan pangan
untuk penduduk negeri. (A31)
Di wilayah dataran
ini terdapat Ibu Kota Metropolis Atlantis yang besar, canggih, dan sangat elok
(A22-29. Arsitekturnya kota juga
didominasi oleh teknologi kanal dan jembatan.
Di tengah kota terdapat pulau utama yang berdiameter 5 stadia
(~1km). Di tengah pulau tersebut
terdapat Istana Poseidon yang sangat megah.
Pulau utama tersebut dikelilingi oleh selang-seling zona tanah dan air
yang konsentris membentuk lingkaran sebanyak 10 lapis. Zona paling luar selebar 50 stadia (~9.2km)
adalah tempat pusat kota Atlantis yang dipinggirannya dibangun benteng tersusun dari batu yang membatasinya
dengan wilayah sekitar. Di satu sisi
benteng yang menuju lautan lepas dibangun kanal utama yang memotong zona paling
luar tersebut menuju pelabuhan utama Atlantis.
Lebar kanal adalah 300 ft (100m) dengan kedalaman sekitar 100ft (35m)
sepanjang 9.2km. Dua zona tanah dan air
di sebelah dalam dari pelabuhan selebar 3 stadia (555m). Empat zona tanah dan air berikutnya
mempunyai lebar 2 stadia (370m).
Kemudian dua zona tanah dan air yang langsung mengitari pulau utama mempunyai
lebar masing-masing 1 stadia (185m).
Semua zona yang melingkar konsentris tersebut dihubungkan dengan
jembatan dan kanal.
Ringkasnya, uraian di atas di atas jelas ciri-ciri alam
daratan Atlantis menunjukkan ciri-ciri alam tropis yang sangat subur dan
mempunyai kekayaan sumber daya alam luarbiasa, termasuk keragaman flora-fauna,
pertanian, hasil hutan, dan pertambangan logam. Daratan tersebut bukan pulau terpisah tapi
anjungan besar dari sebuah benua, dimana di tengahnya terdapat dataran rendah
yang luas dan landai dikelilingi oleh jalur pegunungan dengan gunung-gunung api
aktif. Kemudian geografisnya juga dicirikan oleh dataran besar aluvial landai
yang berdimensi 555 x 370 km berada di tengah daratan dan dialiri sungai
(sangat besar) yang hulu-hulunya berasal dari pegunungan yang mengelilinginya. Sumber daya alam yang luarbiasa tersebut
benar-benar dimanfaatkan untuk membangun sebuah negeri maritim yang besar dan
elok dan sangat tinggi peradabannya.
Kekuasaan Atlantis meliputi pulau besar yang diuraikan di atas ditambah
pulau-pulau lainnya dan juga sebagian wilayah benua (A10). Jadi bukan hal aneh apabila sisa-sisa
peradaban Atlantis ini ditemukan hampir diseluruh dunia, termasuk wilayah di
benua Amerika, Asia, dan Afrika. Pada
zaman Atlantis, sebelum 11.600 tahun lalu, ketika dunia masih berada dalam zaman es, dikatakan
bahwa negeri di wilayah tropis ini jauh lebih subur dan nyaman dibanding
sekarang (Zaman Solon-Plato) karena iklimnya berbeda, temperaturnya beberapa
derajat lebih dingin. Pada zaman es
wilayah ini merupakan yang terkaya, terindah dan ternyaman di muka bumi,
seperti yang diilustrasikan oleh Dialog Plato, namun sudah mengalami degradasi akibat erosi, sedimentasi dsb.
(A-15).
Kemudian diceritakan bahwa pada masa kejayaan, penduduk negeri Atlantis sangat patuh pada
aturan, taat beribadat, sangat menjunjung tinggi budi pekerti yang luhur, dan
tidak kemaruk oleh keduniawian walaupun berlimpah harta dan emas-permata. Namun akhirnya mereka lupa diri, kemudian
berambisi ingin menaklukan siapa saja di seluruh dunia. Sampai akhirnya tidak lama setelah kalah
perang melawan Athena Purba, sekitar 11.600 tahun lalu (BP), Negeri Atlantis musnah oleh bencana
katastrofi. Peristiwa ini dimulai dengan hujan yang sangat lebat mengguyur Negeri
Atlantis selama satu malam. Setelah itu datanglah bencana gempabumi yang sangat
dahsyat yang diikuti oleh banjir besar (=tsunami) yang hempasan gelombangnya menginundasi
daratan sampai jauh ke dalam (A-11,37) memusnahkan Negeri Atlantis hanya dalam
sehari-semalam. Dikatakan bahwa Negeri
Atlantis (seperti) hilang tenggelam di bawah laut, dan setelah itu laut di
sekitar Pulau Atlantis yang ‘tenggelam’ jadi sukar untuk dilayari karena
banyak tumpukan lumpur (A-37).
Perlu dikaji bahwa ekspresi ‘Pulau Atlantis tenggelam dalam
sehari-semalam’ tidak harus diinterpretasikan secara literal. Ingat bahwa setelah bencana tsunami di Aceh
tahun 2004. Orang sering mengekspresikan
bahwa ‘Kota Banda Aceh tenggelam’ oleh tsunami.
Memang benar Banda Aceh tenggelam seketika di-inundasi gelombang
tsunami, tapi air laut surut lagi.
Namun, tanah Banda Aceh turun
sampai setengah meter akibat tektonik (“tectonic subsidence”) sehingga bagian
pantainya tetap di bawah air. Banda Aceh
juga dipenuhi oleh lumpur beserta berbagai sampah yang dibawa oleh air. Jadi deskripsi kondisi Banda Aceh setelah
tsunami ada kemiripan dengan deskripsi
kondisi Atlantis setelah ‘gempa dan banjir’ tersebut, yaitu dikatakan tenggelam
dan penuh lumpur, yang dalam hal ini yang dimaksud adalah bagian dataran rendahnya
saja di mana Kota Metropolis Atlantis berada.
Pada masa Solon (600 M) Pulau Atlantis memang sudah
benar-benar tenggelam di bawah laut, tapi tenggelamnya daratan Atlantis di
bawah laut tidak terjadi dalam sehari-semalam karena bencana banjir besar yang
terjadi pada 11.600 tahun lalu tersebut,
melainkan melalui proses alam yang perlahan dan sangat lama. Hal ini diilustrasikan dalam Dialog Plato
dengan mengilustrasikan terjadinya proses erosi dan sedimentasi secara perlahan-lahan selama
ribuan tahun sehingga terjadi akumulasi tebal (yang menutupi apapun yang di
bawahnya) dan berbarengan dengan itu air laut terus naik (atau bisa juga
diekspresikan dengan ‘tanahnya yang terus turun’), sehingga akhirnya pulau
besar Atlantis seperti hilang dari
pandangan, tapi masih menyisakan tulang-tulang daratan (wilayah pegunungan)
yang masih terlihat di atas muka laut berupa pulau-pulau yang lebih kecil
(A-15). Nah, dengan pengetahuan ini
pencarian daratan Atlantis menjadi lebih mudah lagi, bukan?
Jadi, “to the point” saja, di mana Atlantis? Ah, tidak perlu
jenius untuk menjawab hal ini. Silahkan
membuka peta dunia dan mencari sendiri wilayah mana yang memenuhi kriteria
Tanah Atlantis di wilayah Tropis, tidak banyak pilihannya. Ya, benar,
tidak ada pilihan lain kecuali “Sundaland”, daratan yang dulu lebih luas dari ‘Lybia’
(Afrika Utara)+ ‘Asia’(=Turki) tapi
sudah tenggelam sehingga hanya kelihatan ‘tulangnya’ saja, yaitu Sumatera,
Jawa, dan Kalimantan. Daratan besar
lain yang berada di zona Tropis adalah di bagian tengah dari Benua Afrika
(Kongo, Tanzania, Kenya, Uganda, dll) dan Bagian Selatan Benua Amerika (Brasil,
Peru, Equador, Kolombia, Venezuella).
Tapi dua lokasi daratan ini tidak tenggelam dan tidak pernah tenggelam
sejak 20.000 tahun lalu, juga ciri-ciri geografisnya tidak memenuhi deskripsi
Plato. Sundaland 100% cocok dengan semua
deskripsi tentang Pulau/Daratan Atlantis yang diuraikan dalam Timaeus dan
Critias. Sundaland pada masa 11.600
tahun lalu adalah daratan yang notabene merupakan semenanjung besar yang
menjorok dari Benua Asia. Semua
ciri-ciri alam, termasuk jenis flora-faunanya dan sumber daya mineral-logam
(emas, perak, tembaga) yang disebutkan dalam Critias dipunyai oleh Sundaland. Ditambah lagi uraian tentang adanya dataran
aluvial besar di tengah-tengah tanah Atlantis yang hulu-hulu sungainya dari
pegunungan di sekitarnya sangat pas dengan keberadaan Sungai Sunda purba di
perairan Laut Jawa dan Selat Malaka yang anak-anak sungainya bermuara di
punggungan Sumatra, Jawa, dan Kalimantan yang mengelilinginya. Jadi kalau dikatakan sungai purba di
Sundaland bukan bukti adanya peradaban Atlantis memang bukan bukti langsung
atau yang berdiri sendiri melainkan salah satu faktor utama untuk memenuhi
kriteria Atlantisnya Plato. Lebih lanjut
lagi, dimensi tanah landai dimana terdapat Kota Metropolis Atlantis, yaitu 555
x 370 km, pas juga dengan dimensi Laut Jawa, bekas dataran aluvial landai yang
sudah tenggelam; silahkan diukur sendiri supaya yakin.
Atlantis = Sundaland, itu juga yang diteriakkan oleh Santos
dalam bukunya : “ATLANTIS the Lost
Continent Finaly found”. Uraiannya cukup
ruwet dan berliku-liku dan terkadang seperti tidak masuk akal, tapi ide utama
yang dikemukakan sebetulnya simpel dan brilian.
Sebelumnya sudah banyak berbagai kandidat Atlantis yang diajukan tapi
tidak ada yang benar-benar memenuhi syarat dan anehnya tidak ada satupun yang
melirik Sundaland. Apakah memang tidak
ada orang yang serius membaca Timaeus dan Critias, atau barangkali disengaja
untuk mengecoh orang dengan membuat
banyak “decoy-decoy” yang tidak masuk akal apapun tujuannya, Wallahualam. Santos punya kesalahan cukup fatal karena menafsirkan Pulau Atlantis benar-benar
tenggelam dalam sehari-semalam, seperti banyak ditafsirkan oleh banyak orang. Oleh karena itu dia mengajukan hipotesa yang
seolah-olah sudah benar-benar dia yakini bahwa yang menghancurkan dan
menenggelamkan Pulau Atlantis adalah letusan gunung api Krakatau Purba yang
kemudian memicu massa es di bumi mencair seketika sehingga menaikkan air laut
sampai puluhan meter hanya dalam sehari-semalam. Alasan ini
tentu tidak bisa diterima oleh ilmu geologi karena letusan katastrofi tidak membuat es
mencair, tapi sebaliknya malah menurunkan temperatur bumi
seperti halnya letusan Toba yang menurunkan temperatur bumi beberapa
derajat selama 6 tahun. Disamping itu
dalam Timaeus-Critias tidak menyinggung fenomena bencana letusan gunung
api. Walaubagaimanapun, karya Santos
sangat berjasa dalam membukakan ide tentang lokasi Atlantis yang lebih masuk
akal ini. Selain itu dia terutama sudah
bekerja keras mengumpulkan banyak mitos, tradisi, peta dan catatan kuno, serta
berbagai literatur untuk memperkuat bukti bahwa bukan hanya Plato yang
mengatakan tentang adanya ‘Tanah Surga
Purba – Pusat Peradaban Dunia’ tapi juga diceritakan oleh banyak sumber yang
meskipun nama sebutannya berbeda-beda
tapi deskripsinya banyak kemiripan dengan deskripsi Atlantis-nya Pluto. Misalnya adalah cerita dari ahli sejarah
Yunani terkenal yang hidup pada Abad satu sebelum Masehi, yaitu Diodorus
Sicculus, tentang “Islands of Heliads” atau Negeri Matahari jauh di selatan di
wilayah lautan di Selatan India; atau tentang Negeri “PUNT”orang Mesir yang
dikatakan sebagai negeri pertama para leluhurnya yang terletak jauh di timur.
Nama pusat peradaban kuno yang cukup terkenal selain
Atlantis adalah LEMURIA atau Tanah Mu (“The Land of Mu”). Kisah Mu pertamakali dikemukakan oleh Le
Ploengon (1825-1907) setelah dia kembali dari perjalanannya melihat sisa-sisa
reruntuhan peradaban Maya di Yucatan, Mexico.
Dari berbagai relief bangunan,artefak,
simbol-simbol, dan tulisan hieroglpyhs yang ditemukan di sana Le
Ploengon berkesimpulan bahwa peradaban (leluhur) bangsa Maya lebih tua dari
peradaban Mesir dan Yunani, bahkan lebih jauh lagi menginduk ke peradaban
sangat kuno dari satu daratan yang dulu tenggelam karena bencana. Salah satu leluhur dari daratan tenggelam itu
adalah ‘Ratu Moo’ yang membangun peradaban di Mesir dan Yunani. Le Ploengon kemudian menginterpretasikan bahwa
daratan yang dimaksud bangsa Maya adalah sama dengan tanah Atlantis di dalam
Timaeus dan Critias yang menurut keyakinannya ada di tengah Samudra Atlantic
. Le Ploengon adalah juga seorang
pioneer dalam penggunaan kamera foto (termasuk teknik foto 3-D) untuk
mendokumentasikan reruntuhan Maya tersebut.
Dokumen foto-foto nya menjadi data yang sangat berharga karena sekarang
banyak sisa-sisa reruntuhan Maya yang sudah rusak atau dimusnahkan (oleh
Spanyol). Koleksi Foto-foto, catatan
harian dan berbagai catatan-analisa Le Ploengon yang asli sekarang tersimpan di
Museum Getty, Los Angeles.
Kemudian, James Churchward (1851–1936) lebih mempopulerkan
lagi ide-nya Le Ploengon tersebut dalam satu seri buku-nya yaitu: Lost
Continent of Mu, the Motherland of Man (1926), kemudian di-edit lagi menjadi
The Lost Continent Mu (1931), dan seterusnya ditulis dalam buku populer
berjudul The Children of Mu (1931) dan
The Sacred Symbols of Mu (1933).
Churhward meng-klaim bahwa urain didalam buku-bukunya tersebut adalah dari
transkrip huruf kuno pada dua buah tablet tanah yang diperlihatkan oleh pendeta
tinggi di India (ketika dia sedang berdinas sebagai militer di sana) dan juga
dari 2500 tablet batu bertulis dari reruntuhan Maya di Meksiko yang dikumpulkan
oleh William Niven. Tapi, konon, 2500
tablet batu itu sayangnya raib ketika sedang dikirim dari Meksiko ke USA. Singkatnya Churchward menguraikan bahwa di
Tanah Mu atau Le-MU-ria ada peradaban
tinggi bangsa “Naacal” yang berkembang sejak 50.000 tahun lalu sampai 12.000
tahun lalu, yaitu saat musnah karena bencana alam. Ketika terjadi benjana besar tersebut
populasi bangsa Mu sudah mencapai 64 juta penduduk dan meninggalkan banyak
kota-kota besar dan koloni-nya diberbagai tempat di dunia. Salah satu ciri khusus dari peninggalan
bangsa Mu atau Naacal ini adalah simbol (Dewa) Matahari dan (manusia) burung
yang terukir diberbagai artefak dan peninggalan megalitik di banyak tempat di
dunia, termasuk patung-patung batu besar (Moai) di Pulau Easter, Polinesia. Namun, berbeda dengan interpretasi Le
Ploengon, Churhward percaya bahwa daratan besar yang tenggelam dari leluhur
bangsa Maya (dan juga bangsa-bangsa lainnya, termasuk Mesir dan Yunani) adalah
di tengah-tengah Samudra Pasific, bukan di Samudra Atlantic.
Baik karya Le Ploengon ataupun Churchward dua-duanya banyak
dicemoohkan oleh kalangan ilmiah. Yang
Menarik, alasan utama kenapa karya mereka ‘dibuang’ adalah karena berhipotesa
tentang benua yang tenggelam di tengah samudra , yang satu bilang di Atlantic
lainnya di Pasific, karena ini adalah hal yang mustahil untuk dunia ilmiah,
khususnya menurut ilmu geologi.
Gara-gara interpretasi yang sembrono inilah maka kerja keras mereka yang
sesungguhnya menjadi ikut dianggap sampah, sama seperti halnya Santos yang
membuat hipotesa konyol tentang letusan gunung berapi yang mencairkan es. Aneh juga kalau dipikir sepintas lalu bahwa
mengajukan benua (khayalan) yang tenggelam di tengah Samudra sepertinya
dianggap lebih masuk akal dibandingkan mengusulkan daratan yang benar-benar
pernah ada, yaitu Sundaland. Tapi harus
diingat bahwa ketika zaman Le Ploengon dan Churchward, perihal geologi dari
Sundaland belum banyak diketahui dan dipahami orang.
Cerita daratan besar tenggelam lain yang tidak kalah
menariknya adalah “Kumari Kandam” yang disebut dalam literatur kuno
Sangam-Tamil (tertulis pada awal Masehi), India
(http://en.wikipedia.org/wiki/Kumari_Kandam) .
Diceritakan bahwa dulu ada Kerajaan kuno Pandiyanyang berada di dataran
antara Sungai Besar Pahruli dan Kumari dengan wilayah pegunungan
disekitarnya. Kemudian ‘laut yang kejam’
mengambil (=menenggelamkan) dataran dan sungai besar itu sehingga sang raja
Pandiyan menaklukan tanah raja Chola dan
Chera (di India) sebagai penggantinya.
Menarik untuk dicatat bahwa sungai purba besar di Sundaland pun ada dua,
yang satu berada di Selat Karimata sekarang dan bermuara ke Laut Cina Selatan,
dan satu lagi berada di Laut Jawa sekarang dan bermuara ke timur, yaitu di
selatan Selat Makasar. Lokasi dari
Tanah Pandiyan itu dideskripsikan berada di ‘selatan’ semenanjung India yang
kemudian oleh kongres nasionalis Tamil, Kumari Kandam ini tidak lain adalah
LEMURIA, pusat peradaban dunia, dan letaknya di tengah Samudra Hindia. R. Mathivanan, kepala editor “Etymological
Dictionary Project dari Pemerintahan Tamil Nadu, meng-klaim bahwa dia bisa
memecahkan transkrip kuno dalam artefak Indus yang isinya antara lain
menginformasikan bahwa peradaban Kumari Kandam (sebagai leluhur bangsa Tamil)
mulai berkembang sejak 50 ribu tahun lalu sampai tenggelamnya karena banjir
besar (sejak) 16 ribu tahun lalu; kemudian 6 ribu SM Raja Pandiya dari Kumari Kandam mulai mendirikan kerajaan
kedua di tanah barunya, yaitu di wilayah India sekarang, dsb.dst. Yang sangat janggal, kongres tamil ini
bersepakat bahwa lokasi Kumari Kandam itu di tengah-tengah Samudra Hindia yang
jelas-jelas tidak bisa diterima oleh sejarah geologi karena di situ tidak
pernah ada tanah tenggelam ribuan-puluhan ribu tahun lalu. Yang benar, sejarah tektonik mengatakan bahwa
pulau India itu 90 JUTA tahun lalu lokasinya memang berada di Samudra Hindia
sekarang, kemudian karena proses tektonik lempeng daratan ini melaju ke utara
dengan kecepatan sampai 20 centimeter/tahun sampai akhirnya mulai menabrak
Benua Asia sekitar 50-45 JUTA tahun lalu yang karenanya pegunungan Himalaya
sekarang ada. Jadi kalau dikaitkan
dengan geologi maka kisah daratan Kumari Kandam di Samudra Hindia waktu
kejadiannya kekurangan tiga angka NOL.
Apakah Kongres Tamil waktu itu tidak terpikir untuk melirik ke daratan
tenggelam yang lebih masuk akal yaitu Sundaland? Boleh jadi bersikap nehi-nehi
terhadap kemungkinan itu karena sampai saat ini Bangsa India dikenal sebagai
pembina peradaban Indonesia, masa iya
harus mengakui sebaliknya, Wallahualam.
Sampai saat ini bencana katastrofi yang menghancurkan
Atlantis, dari sudut pandang ilmiah, tetap masih merupakan misteri yang harus
diteliti serius. Timaeus dan Critias
hanya mengatakan bahwa bencana itu dimulai dengan satu malam diguyur hujan yang
sangat lebat kemudian datanglah bencana gempa dan banjir atau tsunami, diikuti
oleh gejala penurunan tanah. Apakah
maksudnya gempa tektonik? Di Sundaland
gempa dan tsunami besar hanya bisa dihasilkan oleh zona subduksi, atau disebut
juga sebagai “megathrust”, seperti halnya yang menyebabkan tsunami Aceh tahun
2004, Pangandaran tahun 2006 dan tsunami di Pagai, Mentawai tahun 2010. Apabila Kota Metropolis Atlantis itu berada di dekat Selat Sunda,
maka sumber gempa mautnya kemungkinan besar adalah megathrust dengan skala sangat besar di wilayah Selat
Sunda, katakanlah sampai 9.5 SR atau lebih, sehingga memecahkan batas lempeng
dari mulai barat Sumatra – Selat Sunda – sampai ke Selatan Jawa. Apakah goyangan dari gempa seperti ini cukup untuk merontokkan Atlantis
dan membangkitkan tsunami yang menenggelamkan Kota Metropolisnya? Mungkin saja, tapi taksiran saya mungkin
harus dibarengi dengan longsoran besar di bawah laut di dekat Selat Sunda untuk bisa membangkitkan tsunami sampai lebih dari
seratus meter. Dan boleh jadi juga keberadaan
kanal-kanal air di wilayah dataran Atlantis ini menjadi jalan bagi gelombang
tsunami untuk merambat jauh ke daratan.
Perlu ada pemodelan tsunaminya
untuk bisa lebih kuantitatif dan pasti.
Gempa Megathrust di zona Subduksi Sumatra-Selat Sunda-Jawa juga dapat
menyebabkan penurunan tanah atau “tectonic subsidence” di wilayah Selat Sunda
ke timur. Jadi hipotesa ini kelihatannya
cocok dengan deskripsi dalam Dialog Plato.
Kalau benar ada gempa raksasa yang pernah terjadi di wilayah Selat
Sunda, maka hal ini cukup menakutkan karena segmen megathrust di wilayah Selat
Sunda statusnya “seismic gap” (tidak pernah mengeluarkan gempa besar) dalam
perioda yang sangat panjang, alias
dicurigai sudah mengumpulkan energi yang sangat besar sehingga siap memuntahkan
energinya seperti pada masa purba untuk menghancurkan wilayah Kota Metropolis
saat ini, yaitu Jakarta.
Walaupun demikian hipotesa bencana letusan gunung api tetap
tidak bisa sama sekali diabaikan. Dengan
asumsi bahwa keterangan dalam Dialog Plato tidak lengkap sehingga tidak
menyinggung ada fenomena ini, atau barangkali saja ada dalam Dialog Plato yang
terputus atau hilang. Selain itu gempa
tektonik bisa juga memicu letusan gunung api.
Gunung api serta bumbungan letusannya ke angkasa banyak diasosiasikan
oleh orang dengan istilah “Pillars of Heracles”. Dari jejak kaldera yang terlihat sekarang
bisa disimpulkan bahwa Krakatau Purba dulu lebih besar dari Krakatau yang
meletus dahsyat tahun 1883. Bahkan, ada
yang menduga diameternya sampai 50 km melewati Gunung Sibesi – Rajabasa, Pulau
Sangiang – Anyer – Komplek Krakatau yang aktif sekarang. Letusan yang menghasilkan kaldera sebesar ini
tentu benar benar katastropik, tidak hanya memusnahkan Atlantis tapi merupakan
bencana global seperti halnya Letusan Toba sekitar 70.000 tahun lalu. Namun, sejarah geologi letusan Krakatau pada
masa purbakala masih gelap, sehingga saat ini kita hanya bisa berandai-andai
saja.
Selain gunung api, orang bisa juga berhipotesa bahwa gempa
yang dimaksud dalam Dialog Plato bukan gempa tektonik ataupun vulkanik, tapi
karena ada tumbukan meteor besar. Kalau
ini yang terjadi, tsunami yang dibangkitkan bisa sangat besar, sampai ratusan
meter. Tumbukan meteor juga menimbulkan
dampak iklim global yang mematikan, seperti halnya yang pernah terjadi 60juta
tahun lalu yang memusnahkan hampir semua mahluk hidup di dunia termasuk
dinosaurus. Singkatnya, bencana yang
pernah menghancurkan Atlantis di masa Pra-Sejarah adalah hal yang masih harus diteliti
dan dicari fakta-faktanya.
Selanjutnya, kronologi kejadian tenggelamnya Atlantis pada
11.600 tahun lalu yang dikatakan dalam Dialog Plato sangat menarik karena pada
masa itu pengetahuan geologi tentang adanya Zaman Es dan kenaikkan muka airlaut
dari 20.000 tahun BP sampai 8000 tahun
BP belum ada. Jadi bagaimana orang bisa
‘berkhayal dengan cerdik’ dengan menempatkan waktu musnahnya peradaban Atlantis
pada perioda terjadinya kenaikkan muka airlaut global tersebut? Ada tiga kali pulsa perioda kenaikkan air
laut yang relatif sangat cepat, yaitu yang disebut sebagai Melt Water Pulse
(MWP) 1a, 1b, 1c pada sekitar 15.000-14.000 BP, 13.000-12.000 BP dan
11.000-8.000 BP. Timing 11.600 tahun lalu kira-kira ada diantara MWP 1b dan
1c. Data detail tentang sejarah geologi
kenaikkan muka airlaut sejak 20.000 tahun lalu di Sundaland masih sangat minim
sehingga resolusinya masih rendah. Denga
kata lain seberapa cepat air laut bisa naik karena es meleleh, atau keberadaan
naik air laut yang tiba-tiba pada MWP 1a,b,c masih harus diteliti lebih lanjut.
Apalagi kalau misalnya ada kenaikan air
laut tiba-tiba yang sangat besar tapi hanya “spike” alias banjir besar dalam
perioda yang singkat (karena surut lagi), maka hal ini tidak akan terekam dalam
sejarah geologi kecuali kita punya rekaman data alam yang resolusinya tinggi,
misalnya harian, mingguan, bulanan, atau juga tahunan. Rekonstruksi yang ada sekarang adalah
kenaikkan muka air laut yang resolusinya rendah, dan bukan berasal dari data di
Laut Jawa.
Jadi apa kesalahan hipotesis Sundaland adalah Atlantis? Tidak ada cela bahwa Sundaland memenuhi semua
kriteria yang diberikan Plato, meskipun tentu saja semua itu harus diteliti dan
dicari fakta-fakta di lapangannya.
Mungkin yang bisa dianggap kekurangan Sundaland sebagai Atlantis adalah karena ‘fakta’ bahwa
sejarah Nusantara baru diketahui mulai sekitar Abad 4 Masehi. Zaman sebelum itu oleh para arkeolog dianggap
masih primitif. Meskipun nyatanya banyak
tinggalan megalitikum yang hebat-hebat dari zaman pra-sejarah di Indonesia yang
masih misterius asal-usul dan umurnya, termasuk
tinggalan megalitik yang sangat berlimpah di wilayah Pagar Alam, atau
batu-batu Menhir besar yang menakjubkan di Lembah Bada, Sulawesi Tengah. Itu baru yang terlihat di permukaan, belum
yang masih tertimbun dibawah tanah. Dengan
kata lain belum ada data (yang cukup) tentang peradaban di zaman pra-sejarah
tidak bisa diartikan menjadi tidak ada peradaban di zaman pra-sejarah. Hal sama juga menyangkut keberadaan peradaban
Athena purba dalam Dialog Plato karena
dari pengetahuan arkeologi yang diyakini “mainstream”, tidak ada peradaban di
Yunani 11.600 tahun lalu, bahkan di Eropa atau di seluruh dunia. Jadi ini masalah dunia. Meneliti keberadaan peradaban tinggi pada
zaman pra-sejarah Indonesia adalah satu tahap yang sangat penting.
Pendapat umum kalangan arkeologi di Indonesia meyakini bahwa
populasi manusia dan peradaban Nusantara berasal dari daratan besar Cina yang
dibawa oleh imigran via Taiwan ke selatan sekitar 6000-5000 tahun lalu. Namun, Teori “Out of Taiwan” yang dipelopori oleh Peter Bellwood ini sekarang
sudah mulai banyak dianggap tidak cocok dengan berbagai hasil penelitian dan
temuan baru sehingga mulai dikembangkan teori tandingannya yaitu “Out of
Sundaland” yang sebaliknya mengatakan bahwa asal mula peradaban dari
bangsa-bangsa didaratan Asia (dan juga dunia) adalah dari Asia Tenggara atau
Sundaland. Salah satu yang terkenal
mendukung “Out of Sundaland” ini adalah Stephen Oppenheimer dengan berbagai
makalah ilmiah dan juga buku populernya “Eden in The East”. Awalnya Oppenheimer tergerak untuk meneliti
ini karena dia melihat Asia Tenggara adalah wilayah yang mempunyai keragaman
dan kekayaan budaya yang tiada duanya di dunia, sehingga kenapa selama ini para
ahli memandangnya sebelah mata dan sepert percaya buta begitu saja dengan Out of Taiwannya Bellwood yang
memposisikan budaya Asia tenggara hanya sebagai cabang sekunder dari peradaban
daratan Asia.
Penelitian Oppenheimer yang keahlian dasarnya adalah seorang
dokter dan ahli biomolekuler menunjukkan
bahwa nenek moyang dari kebanyakan bangsa Indonesia yang hidup sekarang sudah
tinggal di sini sejak 50.000 tahun lalu.
Kemudian dari penelusuran arkeologi, anthropologi, linguistik, dan
bahkan sampai berbagai tradisi dan mitos-mitos, Oppenheimer berkesimpulan bahwa Sundaland atau Asia Tenggara sekarang adalah
pusat budaya Austronesia dan polinesia.
Teknologi peternakan dan pertanian sudah ada di Sundaland jauh sebelum
orang-orang dari Taiwan datang ke Nusantara, 6000-5000 tahun lalu. Bahkan teknologi pelayaran itu pertama
dikembangkan di Bumi Nusantara antara 16.000 – 8.000 tahun lalu. Dia berpendapat bahwa kemampuan berlayar ini
‘terpaksa’dikembangkan untuk menghadapi tiga episoda banjir besar. Pendapat ini ditunjang oleh hasil pemetaaan
DNA yang mengindikasikan ada penyebaran populasi di wilayah Sundaland ketika
tiga kali episoda banjir tersebut.
Ekspansi populasi dan peradaban dari Sundaland akibat iklim global dan
kenaikkan muka airlaut ini juga sejalan dengantemuan-temuan penelitian lintas
disiplin keilmuan dari Universitas Leeds, Belanda yang dipimpin oleh Martin
Richards, professor pertama di bidang “archeo-genetics”. Jadi singkatnya, Oppenheimer dan sejumlah
pendukung Teori “Out of Sundaland” memang tidak langsung mengkaitkan
temuannya dengan isyu Atlantis atau
LEMURIA dan untuk pembahasan ilmiah memang tidak perlu dikait-kaitkan; namun
opsi Sundaland sebagai pusat peradaban yang lebih tua dari peradaban yang
dibawa oleh “Out of Taiwan” ini akan membuka pintu lebih lebar untuk menguak
tabir misteri Atlantis.
Pembuktian langsung bahwa ada peradaban (tinggi) di zaman
pra-sejarah adalah apabila ditemukan monumen besar dan hebat dari zaman
pra-sejarah, seperti dikatakan Plato bahwa sebagai bukti dari Atlantis maka
disuruh mencari “sacred monument” yang biasanya didirikan di dekat mata-mata
air di wilayah pegunungan (A-38). Siapa
tahu Situs Megalitik Gunung Padang adalah salah satu kuncinya. Akhir kata, menarik untuk menyimak kata-kata
mutiara dari Dr. J. Robert Oppenheimer,
Direktur Project Manhattan – Bom Nuklir USA di bawah ini terasa mengena untuk
mendorong pemikiran-pemikiran baru dalam sains dan penelitian, termasuk yang
kontroversial atau bahkan yang terlihat tidak masuk akal sekalipun:
“There must be no barriers to freedom of inquiry. There is no place for dogma in science. The
scientist is free, and must be free to ask any question, to doubt any
assertion, to seek for any evidence, to correct any errors. Where science has
been used in the past to erect a new dogmatism, that dogmatism has found itself
incompatible with the progress of science; and in the end, the dogma has
yielded, or science and freedom have perished together”. (J.R. Oppenheimer,
1949).
Sundaland 12 ribu tahun yang lalu
Sundaland sekarang
LAMPIRAN A :
Cuplikan penting dari Naskah Timaeus dan Critias
(terjemahan Benjamin Jovett) tentang
Atlantis disertai komentar/penjelasannya.
Oleh: Danny Hilman Natawidjaja – TIM KATASTROFI PURBA
Dalam dialog Timaeus dan Critias diuraikan dengan jelas
bagaimana Plato mendapatkan Naskah kisah Atlantis (yang berperang dengan Athena-Yunani Kuno), sebagai berikut :
1.Critias: Then listen, Socrates, to a tale (of Atlantis)
which, though strange, is certainly true, having been attested by Solon, who
was the wisest of the seven sages. He was a relative and a dear friend of my
great-grandfather, Dropides, as he himself says in many passages of his poems;
and he told the story to Critias, my grandfather, who remembered and repeated
it to us. There were of old, he said, great and marvellous actions of the
Athenian city, which have passed into oblivion through lapse of time and the
destruction of mankind, and one in particular, greater than all the rest. This
we will now rehearse. It will be a fitting monument of our gratitude to you,
and a hymn of praise true and worthy of the goddess, on this her day of
festival… Socrates: … what is this
ancient famous action of the Athenians, which Critias declared, on the authority
of Solon, to be not a mere legend, but
an actual fact? … Critias: About the
greatest action which the Athenians ever did, and which ought to have been the
most famous, but, through the lapse of time and the destruction of the actors,
it has not come down to us…etc.
Komentar: Plato bersaksi bahwa dia mengatakan fakta, karena kisah ini
sudah diuji kebenarannya oleh Solon, yang terkenal sebagai seorang yang paling
arif dan bijaksana di zamannya. Kisah
ini tentang para pahlawan Kota Athena di masa purba (yang berperang dengan
pasukan Atlantis dan menang!).
2.“I (Plato) will tell you the reason of this: Solon,who was
intending to use the tale (of Atlantis) for his poem, enquired into the meaning
of the names, and found that the early Egyptians in writing them down had
translated them into their own language, and he recovered the meaning of the
several names and when copying them out again translated them into our
language. (Critias). Catatan: Jadi
sumber aslinya adalah dari prasasti kuno (dalam hieroglyphs) pada sebuah kuil
tua Mesir yang diterjemahkan ke bahasa Mesir waktu itu (oleh si pendeta), dan
terus diterjemahkan lagi ke bahasa Yunani (oleh Solon).
I. 3.
My great-grandfather, Dropides, had the original writing (from Solon),
which is still in my possession, and was carefully studied by me when I was a
child. Therefore if you hear names such as are used in this country, you must
not be surprised, for I have told how they came to be introduced. (Critias)
II. I must describe first of all Athenians of that day, and
their enemies who fought with them, and then the respective powers and
governments of the two kingdoms. Let us give the precedence to Athens. Catatan: Bangsa Athena purba yang berperang
(dengan Atlantis) tidak sama dengan Athena yang dikenal pada masa Solon-Plato.